Bohemira

Let's see the world from so many color perspective

I’m the Trend! (a classical trend from outdated stuff)

Koran pagi…sepertinya (setidaknya saat tulisan ini dibuat) memiliki penurunan tingkat  preferensi dari audiensnya dibandingkan dengan surat kabar elektronik saat ini. Bisa kita bayangkan saat era 80 dan 90-an ketika akses akan internet masih menjadi barang langka bagi sebagian besar dari kita pada masa itu. Saat smart phone masih menjadi barang yang bisa dikatakan belum masuk ke dalam daftar kebutuhan utama masyarakat modern. Setiap pagi sudah menjadi pemandangan yang umum bagi kita (atau setidaknya saya), bagaimana ayah, kakek, guru, dan orang tua kita dengan antusiasnya sibuk membolak-balik halaman untuk memenuhi kebutuhan akan informasi mereka melalui koran pagi, lengkap dengan secangkir teh atau kopi yang menemani. Atau bagaimana puasnya diri kita mendapati kotak-kotak TTS (teka teki silang) di koran mingguan itu penuh dengan jawaban. Atau bagaimana sekelompok pemuda dengan suara yang sedikit offkey namun bersemangat mengerumuni dan membahas mading (majalah dinding) yang terpampang di sudut kampung/sekolah, memberi komentar dan mendiskusikan beberapa hal yang mungkin boleh dikatakan tidak terlalu penting. Atau bagaimana serunya mengerjakan tugas kelompok kliping (kumpulan berita pilihan dari satu atau surat kabar bersama teman-teman sekolah.

Dan kita menjadi saksi hidup bagaimana pergeseran kultur dan kebiasaan masyarakat modern (baca:kita – setidaknya jika menganggap diri kita sebagai masyarakat modern-) di masa yang menurut saya serba terburu-buru ini. Kesibukan membolak-balik halaman itu tergantikan dengan kepraktisan untuk mengakses informasi melalui dunia digital semudah menggosokkan jari ke touchscreen: FOR FREE (alias gratis). Bagaimana arus informasi itu makin cepat dan makin deras kita terima setiap detiknya, melalui perangkat yang bahkan terdistribusi dengan cantik sampai ke seluruh pelosok nusantara. Mungkin suatu saat kaum muda modern tidak lagi mengenal surat kabar cetak, mading, atau kliping.

Ya…agak sedikit kuno mungkin, namun saya merasakan semangat keotentikan ketika membaca koran pagi lengkap dengan bau tinta cetaknya yang masih menempel, mengingatkanku betapa panjang dan berbelit proses produksinya. Dengan sharing koran pagi (membaca bergantian dengan membagi halaman) bersama anggota keluarga lain dilengkapi susu hangat bersama kakek saya yang dulu seorang guru, memberikan saya ruang pembelajaran dan kehangatan. Dengan sedikit berdesakan dengan sesama penikmat mading kampung dan sekolah, saya merasa ada semangat perjuangan di sana. Dengan mengerjakan kliping bersama teman-teman, memberi saya rasa kebersamaan dan kreativitas.

Dan pagi ini,… dengan segala kemudahan (thanks to technology), tidak ada berita yang terlewat, meski orang disibukkan dengan aktivitas mereka di dapur, kantor, sekolah, gate bandara, dan bahkan (maaf) toilet. Entah sampai kapan, namun saya berharap industri surat kabar cetak tidak segera tergusur oleh surat kabar elektronik seperti yang telah diramalkan oleh Bill Gates.

Lalu, bagaimana dengan koran-koran pagi yang menumpuk di sudut rumahku (yang bisa dikatakan sudah tidak memiliki nilai ekonomis) ? Walau belum bisa dikatakan menggunung seperti tumpukan koran bekas di rumahku dulu di era keemasan bagi New Kids on The Block dan Tommy Page, tetapi sudah mulai terlihat memadat.  Siang ini, terinspirasi dengan masa kejayaan koran cetak, saya berpikir untuk memanfaatkannya menjadi sebuah karya seni. Saya tergelitik untuk menghadirkan kembali keotentikan dan keantikan surat kabar cetak  untuk mengisi waktu liburan di siang hari yang terik ini. Dan berikut ini kami persembahkan, “I’m the Trend!”, sebuah tema yang mengetengahkan classical trend from outdated stuff.

Sekali lagi, tidak selalu dibutuhkan barang-barang mahal untuk menghasilkan karya seni yang setidaknya dapat kita nikmati bersama keluarga. Sekaligus menghabiskan waktu bersama putriku, melatih kemampuan imajinasi dan sekaligus meningkatkan keterampilannya menggunakan gunting, lem, dan pensil. Berikut sedikit detil di balik pemotretan sederhana di studio kecilku tercinta. Dikarenakan ini proyek untuk killing time, maka tidak ada asisten yang membantu, sehingga konsep, detail dan prosesnya harus saya kerjakan sendiri (yang seharusnya dapat dilakukan paralel menjadi dilakukan secara serial).

Peralatan yang diperlukan juga cukup sederhana: alat untuk mendesain wardrobe (pensil, kertas, atau gadget), lem, gunting, benang dan jarum jahit. Dan tentu saja, bahan utama: KORAN BEKAS.

A. Persiapan I (estimasi waktu 2 jam)

  1. Sketsa/desain wardrobe. Ada 5 elemen yang saya buat yaitu: skirt untuk model 1, dress untuk model 2, korsase, bandana untuk model 1, hiasan kepala model 2.
  2. Pembuatan wardrobe. Proses assembling koran bekas menjadi benda-benda sesuai desain. Sekaligus persiapan detail lain yang diperlukan: kaos putih, celana, hand bag bekas plus bros untuk menghiasnya. Setelah itu… gunting, tempel, jahit, …. Ini adalah tahap yang menyenangkan, karena anak saya sangat antusias untuk ikut ambil bagian dalam pembuatan skirt dan bandananya, sekaligus mengkritisi tiap detail wardrobe yang akan dia kenakan dalam photo session. Menyenangkan bukan?

B. Persiapan II (estimasi waktu  1 jam)

Proses make up  dan hair do kedua model serta pemasangan wardrobe. Disini harus diutamakan kesabaran karena baju koran yang dibuat tidak dijahit menggunakan mesin, tetapi menggunakan tangan, sehingga tingkat kekuatannya tidaklah optimal. Bahkan ada bagian yang terpaksa harus ditambal karena rusak (terkena tumpahan air minum). Menyadari bahwa saya tidak (belum) memiliki sertifikasi professional dalam bidang make up, maka akan terlihat kecenderungan saya untuk menggunakan sedikit intuisi oil painting artist  dan imajinasi dalam tiap detailnya. Sebelum saya memulai proses make up, sebelumnya sudah saya tentukan style atau tema make up  dan hair do. Kali ini untuk mengimbangi warna koran yang cenderung monochrome dan pale, sekaligus untuk mengedepankan unsur vintage in modern world, saya tergoda untuk menampilkan warna-warna-warna kontras yang sedikit berani namun tidak terlalu bizzare. Sebagai hasilnya, dapat dilihat dalam riasan mata, saya campurkan warna beige sebagai warna dasar, kemudian memainkan sedikit warna dark purple, gold, merah, dan hijau; tidak lupa sedikit sapuan warna dark rose untuk mempertajam tulang pipi dan memilih warna merah menyala untuk lipstick guna mempertegas kesan classic. Untuk hair do, atas nama hal yang saya sebut “mempersingkat waktu”, cukup saya gunakan teknik ikat ke atas, pasang hiasan rambut, dan rapikan dengan jepit rambut dan sedikit hair spray.

Sedangkan untuk si model kecil, lebih banyak saya gunakan warna biru untuk mata, dan sapuan pale pink untuk blush on-nya. Yang tidak saya sangka, ternyata model kecil ini jauh lebih nosy dan lebih detail minded dibandingkan model yang lebih dewasa.

C. Persiapan III (estimasi waktu  30 menit)

Pada tahap ini, aktivitas yang tidak bisa dihindari dalam studio photo session, yaitu persiapan layout. Seperti halnya pentas musik kecil-kecilan yang memerlukan panggung kecil dan penataan alat musik, proyek pemotretan kali ini juga membutuhkan sedikit sentuhan layout untuk mendukung tema kali ini. Pencahayaan dan penataan layout diperlukan untuk memberikan sentuhan rasa agar foto yang dihasilkan lebih indah dan memiliki dimensi serta efek drama tertentu yang kita inginkan (sesuai tema). Kali ini saya gunakan background dan flooring terang dengan membentangkan kain putih polos dari background stand hingga menutupi lantai. Peralatan lighting yang saya gunakan juga sederhana, terdiri dari lampu neon yang menggantung di langit-langit studio, SATU continuous lamp (sebagai cahaya pengisi), satu flash light, floor stand, dan umbrella putih sebagai diffuser untuk melembutkan cahaya yang dihasilkan oleh flash. Garis besar penataannya dapat dilihat pada gambar berikut, namun posisi dan kemiringan continuous lamp serta  sudut dan intensitas flash light dalam hal ini diubah-ubah sesuai dengan angle dan efek yang ingin didapatkan.

Mbokdhe Ira Newpaper (0)

D. Photo session (estimasi waktu 2 jam)

Pada kesempatan kali ini, saya ingin memunculkan sedikit keglamoran yang dihasilkan dari kesederhanaan dan keantikan, sedikit kesan euforia masa kejayaan koran cetak yang melahirkan berbagai trend di masa lalu, sebuah trend yang muncul dari hal yang bersifat outdated. Sehingga pencahayaan memang sengaja saya atur sedikit over exposure. Ditambah pada saat itu (entah apa penyebabnya) suasana hati /mood membuat saya agak kecanduan memakai white balance tungsten light dan white fluorescent light. Berikut adalah segelintir hasil photo session proyek mengisi waktu. And VOILA!!!! Ain’t following any particular trend, I’m the trend!

-Mbokdhe Ira Febriana-

Talent: Diyah Sulistiyoningsih dan Medina Safira

Bohemira Newspaper 5

Comment vas-tu?
f/5; 1/80 sec; ISO 200; 70mm

Bohemira Newspaper 6

RETROrica
f/5.6; 1/25 sec; ISO 250; 28mm

Bohemira Newspaper 7

Red Velvet
f/4; 1/60 sec; ISO 200; 24mm

Bohemira Newspaper

de Ja Vu
f/4; 1/100 sec; ISO 200; 32mm

Bohemira Newspaper 3

De bonnes vacances
f/4; 1/200 sec; ISO 250; 28mm

Bohemira Newspaper 2

Bonjour
f/4; 1/100 sec; ISO 200; 24mm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on May 27, 2013 by in Photography and tagged , , , , , , , .

Navigation

%d bloggers like this: