Bohemira

Let's see the world from so many color perspective

J’adore le bleu de l’Indonésie (I Love the Blue of INDONESIA ) – Tribute to Nature Part 1

Travel atau travell. Secara etimologi, pada era Middle English dahulu kata tersebut diserap dari bahasa Old French ~ travaillen  (yang berarti to  trouble, suffer, be warn out), lalu mengalami alterasi dengan menyerap bahasa Middle Scot ~ travailen (yang berarti to toil, work, travel), yang kemudian berkembang menjadi “to be on a journey, often for pleasure or business and with luggage; to go from one place to another”. Bisa kita lihat pergeseran makna dari yang awalnya to work (bekerja) menjadi to be on a journey (bepergian). Baiklah kita memakai makna yang sekarang umum dipakai: bepergian.

Travelling. Siapa yang tidak bermimpi dan menginginkannya? Sekarang ini  tidak sedikit  yang menjadikan travelling sebagai dream job, karier, bahkan lahan bisnis. Dapat kita temukan banyak komunitas maupun situs atau blog yang berisi referensi tentang travelling, yang bagi saya beberapa memang sangat inspirasional. Mulai dari yang ber-backpack sampai dengan yang travelling due to business. Saya termasuk salah satu penyuka travelling.

Pun berbagai motif yang melatarbelakangi orang untuk ber-traveling juga beragam, antara lain perluasan wawasan dalam hal tempat, sejarah, demografi, behaviour penduduk (research based); keinginan menambah pertemanan dan relasi baru; penyegaran tubuh, rasa, dan pikiran; perangsangan  kreativitas; menambah pengalaman (karena manusia pada dasarnya memiliki sifat ingin tahu dan mencoba tantangan baru); mempererat suatu hubungan (motif romantisme); untuk tujuan bisnis, untuk tujuan sosial (social travelling), dan lain-lain. Bahkan sampai tujuan lain yang suka atau tidak suka harus diakui, walaupun mungkin tidak menjadi prioritas bagi semua traveler: prestige  – kebutuhan akan pengakuan baik dari segi strata ekonomi atau dari segi aktualisasi diri saat dapat menyalurkan euphoria dalam membagi pengalaman yang diperoleh selama melakukan perjalanan.

"Laskar Pelangu were Here" (Tanjung Pendam)  & "Mari Berlibur" (Pantai Indrayanti)

“Laskar Pelangu were Here” (Tanjung Pendam) & “Mari Berlibur” (Pantai Indrayanti)

Saat ini travelling memang menjadi trend yang sangat booming bahkan sudah masuk ke list kebutuhan hidup masyarakat. Melalui travelling, kita melakukan berbagai transaksi ekonomi maha besar yang membawa benefit – walaupun juga menghasilkan berbagai biaya sampingan yang harus ditanggung pihak lain, yang dalam bahasa ekonomi disebut eksternalitas (baik eksternallitas positif maupun eksternalitas negatif) – . Sebut saja tambahan relasi baru, pengungkit bagi pembangunan dan roda perekonomian lokal (bagi penduduk destinasi wisata), ilmu dan pengalaman baru bagi masyarakat dunia, modernisasi area, self actualization, tambahan income bagi produsen/penyedia barang dan jasa (industri pariwisata, produsen kamera, industri musik dan film, industri pangan, dll.), atau … malah kerusakan lingkungan, pergeseran kultur dan kearifan budaya lokal, sampai (maaf) penyebaran penyakit menular seksual.

Well, terlepas dari benefit dan eksternalitas yang mau tidak mau harus kita akui dan kelola dengan bijak, kita tidak bisa mengingkari bahwa Republik Indonesia kita tercinta memang memilki daya tarik dan eksotisme yang luar biasa. Indonesia yang kaya raya, sehingga untuk menghitung dan mengesahkan jumlah pulau serta panjang garis pantainya saja diperlukan riset dan konvensi yang cukup kompleks. Jumlah pulaunya pun luar biasa, mencapai kurang lebih 17.504 (masih debatable) – di mana 87,62%-nya tidak berpenghuni (data Kementerian Kelautan dan Perikanan 2013) -, yang di akhir tahun 2012 sebanyak 13.466 pulau sudah tertoponimi dan namanya tercatat/terdeposit di PBB.  Dengan panjang garis pantai 95.181 km, menempatkan Indoensia di posisi nomor 4 negara dengan garis pantai terpanjang (setelah Amerika Serikat, Kanada, dan Rusia). Luas lautnya, tidak tanggung-tanggung: 5,8 juta km persegi, yang entah harus saya syukuri atau saya galaukan, menurut sebuah penelitian potensi laut Indonesia yang dikelola dengan baik konon seharusnya dapat menyokong 85%  perekonomian nasional (belum termasuk Rp 30 triliun pertahun yang dicuri  oleh negara asing). Namun bawaan kaya raya saja tidak cukup karena ternyata banyak hal yang masih menjadi PR kita semua. Kerusakan terumbu karang (menurut Coral Reef Rehabilitation Management Program/ COREMAP LIPI, hanya 6,83%dari 85.707 km2 terumbu karang di Indonesia berpredikat excellent), pencemaran oleh kegiatan pertambangan (contoh: meledaknya sumur minyak Montara milik PT. TEP Australasia di Laut Timor) yang “diabaikan”, sampah yang menutupi permukaan laut dan pantai-pantai indah, dll.

"Dua Sejoli" -Pulau Menjangan Kecil, Kep. Karimunjawa- (thanks to Mas Item, my guide)

“Dua Sejoli”
-Pulau Menjangan Kecil, Kep. Karimunjawa- (thanks to Mas Item, my guide)

Kenang-kenangan foto lama yang kuperoleh saat mengunjungi secuil garis pantai di negeriku ini saja cukup membuatku “ngiler” dalam arti curious, betapa masih ribuan kilometer garis pantai dan jutaan kilometer persegi lagi luas laut Indonesia yang masih menyimpan kekayaan dan keindahannya di luar pengetahuanku. Betapa masih banyaknya tugasku memperkenalkan pada anak-anakku kekayaan alam negerinya yang kelak akan diwariskan pada generasinya, dalam hal pemanfaatan sekaligus tanggung jawab pengelolaannya.

Dan kembali pada eksternalitas travelling, sebesar apa pengaruh travelling (dengan motif bisnis, pariwisata, sains, dll) dalam menghasilkan eksternalitas positif bagi pelestarian sumber daya laut Indonesia, atau sebaliknya, sekuat apa eksternalitas negatif yang mengarah pada perusakan lingkungan pantai dan sumber daya laut dapat dicegah? Again, mulai dari diri kita dan keluarga. Jika tidak memungkinkan untuk melakukan hal besar, mungkin bisa dimulai dari hal yang paling simple seperti tidak merusak terumbu karang saat snorkling dan diving atau melempar softex bekas dan kemasan air minum (baca:sampah) sembarangan di lautan dan pantai saat travelling sehingga foto cantik dan bergaya yang terpampang di akun situs jejaring sosial tidak menjadi sia-sia. Be good, dan anak-anak kita akan mencontoh.

"Belajar dari Alam" -Batu Hiu-

“Belajar dari Alam”
-Batu Hiu-

"Mendung, Saatnya Pulang" -Pasir Padi-

“Mendung, Saatnya Pulang”
-Pasir Padi-

…. atas nama anak cucu kita, mari kita melaut dengan bijak (agar kelak mereka tidak hanya dapat melihat keindahan laut Indonesia hanya dari foto yang kita wariskan, atau mengenali spesies ikan –ikan unik nan langka hanya dari wujud awetan yang tersimpan dalam akuarium/gelas berformalin di museum saja). Bon voyage!!!

"Red Against d' Blue" -Pangandaran-

“Red Against d’ Blue”
-Pangandaran-

"Menjemput Rezeki" -Lombok-

“Menjemput Rezeki”
-Lombok-

"Maghrib di Loang Baloq" -Loang Baloq-

“Maghrib di Loang Baloq”
-Loang Baloq-

"Matahari yang Malu-Malu" -Senggigi-

“Matahari yang Malu-Malu”
-Senggigi-

Giant Frame for us, mari bercinta di Pantai Matras. -Pantai Matras-

Giant Frame for us, mari bercinta di Pantai Matras.
-Pantai Matras-

the Dawn. -Tanjung Pendam-

the Dawn.
-Tanjung Pendam-

"Tak Perlu ke Hawai, Cukup ke Parai" -Parai-

“Tak Perlu ke Hawai, Cukup ke Parai”
-Parai-

"Berlabuh di Hatimu" -Pulau Lengkuas-

“Berlabuh di Hatimu”
-Pulau Lengkuas-

"Besar Sekali Burungnya" -Pulau Burung-

“Besar Sekali Burungnya”
-Pulau Burung-

"Perahu Tua dan Awan Tua" -Melawai-

“Perahu Tua dan Awan Tua”
-Melawai-

Ira Febriana Sari

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on May 31, 2013 by in Travelling and tagged , , , , , , , .
%d bloggers like this: