Bohemira

Let's see the world from so many color perspective

TASMANIA, the Seduction from Afar

| Yoo-Hoo, a Call for all Adventurers

Lapak digelar, aroma kopi menyeruak, obrolan  bergulir. Sudah ke-sekian kalinya eksekusi  ‘dream to become true’, besar maupun kecil hanya berawal dari obrolan ngopi ngalor ngidul. Seperti bom bumbung tersulut, celetukan “Hey, Tasmania gimana Tasmania…?”, menjadi korek yang menantang si bom bumbung untuk meletus. Jemari mengeletuk, agoda.com terbuka, cheap flight ticket di tangan, akomodasi available, peta Tasmania tergelar, itinerary tertulis. Dan begitulah, University Square menjadi semacam “backpacker parlor” atau “meeting room” bagi kami, 4+1 begundal begundil. Tidak seperti otak yang membutuhkan waktu panjang guna menyelesaikan assignment perkuliahan, untuk hal-hal ‘banal’ seperti ini, kami menggila, secerdas Einstein atau Max Born –tidak sehat, memang–. Dalam waktu kurang dari 2 jam planning perjalanan degan motto ‘maximum convenience  with minimum cost’ siap, dan dalam beberapa hari kedepan, jadilah kami menapakkan kaki mengeksplorasi TASMANIA, titik paling selatan dari negeri down under. So, inilah catatan perjalanan kami, teruntuk para backpacker…

Day 1 [4/12/2014]

—  Hobart, a warm welcome —-

Dengan bermodal tiket senilai ± AUD 90 (Melbourne-Hobart return), sampailah kami di Tasmania, — tempat/kata yang saat SD hanya kami baca dari buku dan kami ketahui dari kartun Tasmanian Devil—. Setelah burung besi yang kami tumpangi mendarat mulus di Hobart International Airport, tanpa ba bi bu, bersegeralah kami menjemput mobil yang sudah kami booking. Avis, Eurocar, Thrifty, Budget,… banyak sekali pilihan rental mobil di bandara Hobart. Beberapa hal yang perlu diperhatikan: kebutuhan vs budget, ketersediaan driving license (SIM Indonesia diakui,lho) dan INSURANCE! Catat: item terakhir tersebut teramat sangat penting , terlalu penting untuk tidak diindahkan!

“…Scenic valleys and dramatic hills make Hobart extremely picturesque…”, statement yang tertulis  di brosur yang menggambarkan kota Hobart tampaknya bukan hanya semacam iklan semata. Perpaduan antara elegannya laut, menawannya bukit, gagahnya gunung, eksotisnya lembah dan sungai, serta dinamisnya pusat kota, membuat kota Hobart mewarisi kecantikan yang luar biasa. Turis tidak hanya dimanjakan dengan pemandangan, namun dimudahkan dengan fasilitas (akomodasi, transportasi,dll.) melalui manajemen pariwisata yang luar biasa dari pemerintah setempat. Adalah bebas bagimu untuk memilih hotel backpacker dengan rate AUD 25/bed/night atau suite and room di hotel berbintang berbandrol ratusan dollar/night yang ditawarkan di sana. Kami menginap di Brunswick Backpacker Hotel (di sekitar Liverpool St. dan CBD  juga berderet backpacker hotel).

                Thanks to Google Map, para traveller yang (sok) asik seperti kami menjadi semakin pede menjelajahi tiap sudut kota. Sebelum memulai perjalanan, tidaklah rugi untuk singgah dan meluangkan waktu beberapa menit untuk berkonsultansi tentang tujuan wisata di Tasmanian Travel and Information Centre (TIC) terdekat. Faktanya, TIC ini bisa kita temui di setiap distrik/wilayah, memudahkan kita dalam perencanaan perjalanan dan manajemen waktu (bagi para backpacker dadakan) dalam 6 hari kedepan. Secara garis besar, peta pembolangan kami terwakilkan oleh highlight warna kuning.

Rute Pembolangan

Rute Pembolangan

Mt. Wellington –kunjungan 1–

Bukan kami jika tidak gila. Hanya kami yang dengan cerdasnya tidak mengindahkan ramalan cuaca dan nekat menembus pekatnya kabut plus kejamnya angin dengan mengatasnamakan ketidaksabaran menyaksikan keindahan gunung tersebut (tidak patut dicontoh). Saking tebalnya kabut, jarak pandang kala itu tidak lebih dari 10 meter, menyebabkan penampakan gunung itu makin mistis. Alhasil, kami harus mengunjungi-ulang gunung itu di hari ke-6. Naik ke tiang pancang bumi tersebut, hanya untuk merasakan digagahi keindahannya, 2 kali. Stupid? Memang.

Setelah (sedikit) kecewa dengan kabut tebal yang seenak hatinya menyelimuti Mt. Wellington, kami klinang-klinong memutuskan untuk mengunjungi objek terdekat: The Royal Tasmanian Botanical Gardens (RTBG). Terletak di Queens Domain (sekitar 2km dari pusat kota Hobart), RTBD seperti oase bagi Hobart inner city. Betapa aneka spesies tumbuhan dan penataan landscape yang unik membalikkan mood kami kembali. Tidak kalah cantik dengan Melbourne Royal Botanic Gardens,  RTBG menyajikan keanekaragaman hayati yang superb. Berada di kebun mawar yang menggoda, Historic Wall yang sentimentil, Japanese Garden yang romantis, dan berbagai atraksi lainnnya membuat diri harus pintar-pintar mengendalikan diri untuk memotret (atau memory card is full terjadi di hari pertama — nggak lucu).

Japanese Garden @Royal Tasmanian Botanic Gardens

Japanese Garden @Royal Tasmanian Botanic Gardens

Kebun Mawar @Royal Tasmanian Botanic Gardens

Kebun Mawar @Royal Tasmanian Botanic Gardens

Royal Tasmanian Botanic Gardens

Royal Tasmanian Botanic Gardens

Green! @Royal Tasmanian Botanic Gardens

Green! @Royal Tasmanian Botanic Gardens

Beautiful Flowers @Royal Tasmanian Botanic Gardens

Beautiful Flowers @Royal Tasmanian Botanic Gardens

Royal Tasmanian Botanic Gardens: The Arch, Historic Wall

Royal Tasmanian Botanic Gardens: The Arch, Historic Wall

Salamanca Market –skipped–

Beroperasi setiap hari Sabtu (sejak 1973), Salamanca Market merupakan salah  satu tourist attraction yang menjadi icon kota Hobart. Berbagai fresh product sampai local craft dapat kautemukan disana.  Malangnya, melalui diskusi singkat, kami memutuskan untuk  melewatkan Salamanca Market –itinerary hari Sabtu tidak memungkinkan kami berada di Hobart–.

Hobart Waterfornt

Dikenal juga sebagai Sullivans Cove, Hobart Waterfront  membentang dari Salamanca Place  ke Hunter Street. Festivity within tranquility, sekiranya itulah embel-embel yang kuberikan yang (kurang lebih) bisa menggambarkan spot tersebut. Kawasan pelabuhan yang tenang di tengah kota yang genit, berhiaskan puluhan atau ratusan kapal besar dan kecil yang tertambat, ditambah jajaran street food (yang dijajakan di atas boat) sampai fine dining di resto yang menggugah selera. Di antara lantunan musik saat menikmati fish and chips di atas boat yang terhuyung-huyung diterpa ombak yang kemayu, kembali seperti anak-anak saat merangsek ke Mures dan mengganyang  es krim aneka rasa dengan dominasi susu yang menggila, nongkrong cantik memandangi mas-mas dan mbak-mbak dengan pipi memerah khas Tasman, atau menikmati sunyinya laut dan belaian angin saja? Silakan…silakan…!

Dina! @Hobart Waterfront

Dina! @Hobart Waterfront

atas: Dermaga Sunyi ; bawah: Menggasak Mures @Hobart Waterfront

atas: Dermaga Sunyi ; bawah: Menggasak Mures @Hobart Waterfront

2_Ira Febriana_Hobart Waterfront (4)

Inhabitant of Hobart Waterfront

Inhabitant of Hobart Waterfront

Hobart Waterfront

Hobart Waterfront

Maritime Museum –skipped–

Terletak persis di depan Hobart Waterfront, tapi lagi-lagi kami melewatkannya karena terkendala jam beroperasi yang hanya menyisakan sedikit rasa”… Jika saja persiapan tadi lebih pagi, pasti bisa mencicipinya…”

Day 2 [5/12/2014]

Museum of Old and New Art (MONA)

Terletak di Moorilla winery – Berriedale peninsula, cukup berkendara 11km (15-20 menit) ke arah barat laut dari CBD Hobart. SEDUKTIF. Begitulah saya menggambarkan museum ini. Didirikan dan didanai oleh David Walsh (Glenn), seorang jenius matematika — spesialisasi  professional gambling — (yang menyangkal dirinya jenius dan mengklaim dirinya termasuk anti-genius), billionaire dengan kepribadian yang kompleks.

Dengan tiket masuk $25 (termasuk free pinjaman iPod touch berGPS + headset — untuk navigasi dan menampilkan keterangan objek pameran sekaligus mengirim ‘tour of the day’ ke email masing-masing), kami bak cacing yang dibawa ke gorong-gorong raksasa di bawah tanah. Dibangun seperti undrground labyrinth yang menembus tebing, jajaran karya seni kontemporer sampai peninggalan sejarah mesir kuno berusia ribuan tahun terdisplay dengan elegan. Mayoritas karya seni kontemporer yang ditampilkan adalah bizzare, ganjil, angker, ambigu, atau bisa dikatakan deviating from the usual artwork. Disana akan kautemukan:

  • Cunts (porcelain portrait sculptures 77 vagina dengan berbagai bentuk,umur,dan ukuran);
  • The Mice and Me (porcelain figure mirip manusia dalam kabinet, bersama tikus, dan water pump system);
  • Mind’s Magic (potongan kepala raksasa dari logam, menggambarkan kompleksitas dunia yang disederhanakan oleh otak. Intiplah di lubang biru yang berpendar, and you’ll find magic!)
  • White Library, On Perspective and Motion,Snake, Cloaca Professional, Sound Installation, berbagai mumi dan coffin/peti-nya dari era mesir kuno, dll

Dengan eksterior dasyat dan interior gila, bagiku MONA membawa kesan dan pengalaman super unik dalam karya seni.

MONA: Mind's Magic; Snake; the Mummy

MONA: Mind’s Magic; Snake; the Mummy

MONA: White Library

MONA: White Library

MONA:'On Perspective and Motion'; 'the Mice and Me'

MONA:’On Perspective and Motion’; ‘the Mice and Me’

MONA: the exterior

MONA: the exterior

MONA: Stunning and Magical Interior

MONA: Stunning and Magical Interior

MONA: the Shelf, Sound Installation, the Cunts

MONA: the Shelf, Sound Installation, the Cunts

PORT ARTHUR

[Safety Cove,Carnarvon Bay, Fortescue Bay, White Beach, Remarkable Cave]

Selepas dari MONA, kami melaju, menyeberang ke arah tenggara menuju Port Arthur (±102 km ditempuh dalam 1,5 jam). Menurut brosur tour guide yang kami peroleh dari TIC, terdapat beberapa spot yang fardhu ‘ain (wajib) dikunjungi turis disana, antara lain Port Arthur Historic Site (tiket masuk AUD 35) dan cruise selama 3 jam menjelajahi Tasman Peninsula (tebing laut dolerite  yang menjulang tinggi vertikal). Lagi, dengan sisa waktu yang ada, kami berdiskusi dan memutuskan untuk menempuh rute gila lain, menjelajahi pantai-pantai di sekitar Port Arthur: Carnarvon Bay, Safety Cove, Remarkable Cave, Fortescue Bay, dan White Beach. Carnarvon Bay dan Safety Cove tidaklah berjauhan, alias masih satu garis pantai (hanya diperlukan kurang dari 30 menit dari Carnarvon ke Safety Cove). Carnarvon Beach dengan ombaknya yang tenang, dan Safety Cove yang dipercantik dengan hamparan ganggang warna-warninya yang tersesat di sekitar bibir pantai semacam lipstick yang menghiasi bibir wanita, membuat kami lapar mata.

Remarkable Cave, sesuai dengan namanya menurut kami memang remarkable. Jajaran dinding merah raksasa di sekitar cave yang beradu dengan turquoise-nya laut dapat kita nikmati via Maingnon Bay Lookout.

Fortescue Beach, tempat bertemunya pantai dan hutan, menurut saya bagaikan perawan ting-ting dengan rambut yang menjuntai..molek, molek sekali. White Beach … pasirnya putih dan lembut, layaknya self raising flour. Bahkan di kala mendung yang suram pun, pantai-pantai itu masih menyisakan kecantikan yang aduhai. Puas kencan dengan 5 perawan itu, dan malam mulai menjelang, waktunya untuk kembali ke penginapan kami di Hobart.

Safety Cove

Safety Cove

Remarkable Cave

Remarkable Cave

Maingnon Bay Lookout near Remarkable CaveMaingnon Bay Lookout near Remarkable Cave

Maingnon Bay Lookout near Remarkable Cave

Breathtaking Scenery

Breathtaking Scenery

Breathtaking Scenery: dolerite from Maingnon Bay Lookout

Breathtaking Scenery: dolerite from Maingnon Bay Lookout

Carnarvon Bay, White Beach, Fortescue Bay

Carnarvon Bay, White Beach, Fortescue Bay

Maingnon Bay Lookout near Remarkable Cave (2)

Maingnon Bay Lookout near Remarkable Cave (2)

Remarkable Cave!

Remarkable Cave!

Day 3 [6/12/2014]

Tasmania memiliki banyak sekali Taman Nasional/ National Park (NP) yang layak untuk  dijelajahi. Tiap NP menawarkan keunikan tersendiri. Untuk kalian yang berencana mengeksplore banyak NP, akan lebih murah jika membeli  National Park Pass  (Holiday Vehicle Park Pass untuk rombongan bermobil – kartu pass dipasang di dashboard/kaca mobil -, atau Backpacker Pass untuk yang sebatang kara) seharga AUD 60/vehicle (berlaku untuk seluruh NP di Tasmania yang masuk list). Otherwise, kamu harus membeli tiket parkir rata-rata AUD20an per kedaraan per NP ( pilihan untuk kamu yang hanya ingin mengunjungi 1 NP saja). Kartu pass tersebut dapat dibeli di tiap NP Visitor Centre, Service Tasmania Shops, Spirit of Tasmania, atau Travel Information Centre yang tersebar di seluruh penjuru Tasmania.

Shit happened! Itulah seni yang kadang harus dihadapi para traveller. Kedua kaca spion mobil yang kami parkir di depan penginapan dirusak (kami berasumsi pelakunya adalah pemabuk). Hebatnya lagi, kami tidak mengambil fasilitas INSURANCE (AUD30/day), sehingga harus membayar upfront deposit sebesar AUD3000 untuk biaya kerusakan (selisihnya akan dikembalikan dalam 6-8 minggu). 3 jam-an habis untuk menukar mobil dan mengurus tetek-bengek di tempat penyedia jasa persewaan mobil. Setelah ‘ini-itu’nya selesai, pembolangan kami dilanjutkan dengan berkendara (1 jam dari Hobart) ke arah barat, menuju Mount Field, sambil tertawa keras untuk menghibur diri (menertawakan diri kami sendiri, alih-alih meratap). Di Mt. Field, bau pakis, alpine vegetation, dan gum tree membuat kami lupa dengan kejadian kaca spion dan AUD3000 upront deposit. Semakin ke dalam, suasana makin magic…seperti dunia peri, kata anakku. Russell Falls, Horsehoe, Tall Trees Walk, dan Lady Barron Falls menjadi daya pikatnya (untuk sampai ke Lady Barron diperlukan waktu 2 jam return, berjalan kaki — andai tidak terjebak dalam ‘shit happenned’ pasti kami sampai juga melihat Sang Lady). Berada di bawah naungan red wood dan eucalyptus raksasa (yang tingginya bisa mencapai ratusan meter) membuat kami merasa sangat kecil dibanding alam yang genius dalam meregenerasi diri.

Horseshoe Falls - Mount Field

Horseshoe Falls – Mount Field

Russell Falls - Mount Field

Russell Falls – Mount Field

From Russel Falls to Tall Trees Walk - Mt.Field

From Russel Falls to Tall Trees Walk – Mt.Field

Russell Falls - Mount Field

Russell Falls – Mount Field

Tall Trees Walk - Mount Field

Tall Trees Walk – Mount Field

Sesuai planning, kami tancap gas ke Lake St. Clair (masuk dalam kawasan Craddle Mountain-Lake St Clair National Park). Dari sekian banyak pilihan (walking track, camping site, lookout), Watersmeet dan Platypus Bay-lah yang paling feasible dengan waktu yang kami punya. Bagiku, keduanya tidak terlalu opulent, tapi cukup cantik untuk dilewatkan. Oh iya, kawasan ini tertutup salju saat winter.

Watersmeet - Lake St Clair

Watersmeet – Lake St Clair

Platypus Bay - Lake St Clair

Platypus Bay – Lake St Clair

Selepas dari Lake St Clair, matahari sudah sangat matang, menjajakan warnanya yang oranye kemerahan ketika kami melewati bentangan jalan sekitar Franklin-Gordon National Park menuju Queenstown.  Perjalanan yang seharusnya memakan waktu 1 jam, menjadi hampir 2 jam. Bagaimana tidak, setiap 10 menit kami berhenti untuk mengambil foto, menelanjangi keindahan landscape yang bersenggama dengan golden sunset, semacam berada di Mordor, tempat Sauron bercokol.

Senja di Kawasan Franklin Gordon National Park

Senja di Kawasan Franklin Gordon National Park

Kita dan Franklin-Gordon National Park

Kita dan Franklin-Gordon National Park

Selfie, mencumbui senja

Selfie, mencumbui senja

Senja Menjelang, mari Menuju Mordor

Senja Menjelang, mari Menuju Mordor

Hari mulai gelap dan kami tidak tahu harus bermalam dimana, masih di tengah-tengah ‘pegunungan berwarna abu-abu kemerahan bekas tambang  tembaga’ yang congkak itu. Tidak satupun rumah kami jumpai di kanan-kiri, saat mata sudah mulai ‘rabun dalam gelap’. Sementara fuel makin menipis, bermalam di mobil adalah pilihan terakhir di benak kami. Secercah harapan mulai datang saat lampu rumah-rumah di lembah tampak dari atas bukit, pertanda ada kehidupan di sana. Queenstown, kota kecil dengan populasi 2000-an orang (sensus tahun 2011) — bandingkan dengan Kelurahan Duren Sawit yang dijejali populasi lebih dari 55000an orang–, dikenal sebagai kota tambang. Bagi yang suka landscape photography,sunset di Queenstown pasti dapat memberikan tantangan tersendiri. Memasuki kota, ternyata banyak penginapan yang ditawarkan di sana. Beruntung, kami mendapatkan motel cantik setara 3-star hotel dengan modal AUD 150an (5 bed ++ fasilitas lengkap).

Senja di Queenstown

Senja di Queenstown

Penginapan Cantik @Queenstown

Penginapan Cantik @Queenstown

Senja di Queenstown (2)

Senja di Queenstown (2)

Day 4 [7/12/2014]

Tidak mau rugi, sebelum melanjutkan perjalanan, kami mengkudeta beberapa sudut Queenstown dengan celotehan nggak penting kami. Mungil sekali kota itu, tapi cantik, … seperti aku (mungilnya, bukan cantiknya). Saking kecilnya, mungkin cukup diperlukan 20 menitan saja untuk mengelilingi seluruh kota, seperti mengelilingi satu RW di kampungku. Tenang, sepiiii sekali hingga anjing pun malas menggerakkan badannya, asyik leyeh-leyeh di keset tuannya. Setelah puas, kami menuju pertokoan dan gas station terdekat guna menyiapkan ransum dan memenuhi tangki mobil kami. Sesuai itinerary yang lagi-lagi baru direncanakan di malam harinya, kami menuju ke arah utara, Craddle Mountain tepatnya. Di tengah perjalanan, kami singgahi sebuah lookout di kawasan Black Bluff-Middlesex, kali ini untuk digagahi perkasanya pegunungan di kanan-kiri dan lembah di bawah kami. Indah….

Selamat Pagi, Queenstown

Selamat Pagi, Queenstown

Queenstown: another corner

Queenstown: another corner

Wefie @Queenstown Station

Wefie @Queenstown Station

Us and Black Bluff

Us and Black Bluff

Like Father Like Daughter @Black Bluff

Like Father Like Daughter @Black Bluff

Sesampai di Craddle Mountain, banyak sekali pilihan trekking (level pemula sampai advance) dan aktivitas. Lagi-lagi, waktu adalah constraint terbesar kami, sehingga pilihan jatuh ke Dove Lake. Untuk sampai ke Dove Lake, pengunjung harus menggunakan shuttle bus khusus (ada setiap 15-30 menit sekali, melayani rute seluruh post di Craddle Mountain Park) yang disediakan oleh pengelola park. Mobil pengunjung hanya diperbolehkan masuk sebatas parking area saja. Jangan khawatir, it’s all for free (selama bisa menunjukkan kartu sakti/kartu pass yang sudah kita beli). Jalan yang meliuk-liuk dengan scenery yang luar biasa hanya membuat kami melongo seperti orang bodoh di tengah ilmuwan  NASA. 15 menit kemudian….. yiiihaaaaa…. Dove Lake: birunya langit dan kekarnya puncak-puncak Mordor … ah sudahlah, susah menjelaskannya. Yang jelas  kami ter-jaw dropped.

Dove Lake: Give you my love

Dove Lake: Give you my love

Mordor-ish behind Dove Lake

Mordor-ish behind Dove Lake

Dove Lake :-)

Dove Lake🙂

Legendary Huts @Dove Lake

Legendary Huts @Dove Lake

Satu hal yang perlu dicatat adalah, shuttle bus beroperasi dengan jadwal tertentu. Kami harus mengantri lebih dari 30 menit untuk dapat menaiki bus tersebut untuk kembali ke car park. Sore menjelang, dan kami segera berhambur, memacu mobil ke arah timur menuju Launceston. Setelah googling singkat, kami menemukan backpacker hotel yang cukup nyaman di pusat kota itu. Lagi-lagi, kami berada di kota yang tidak lebih besar dari Salatiga, kecil namun nyaman. Berlima, kami membunuh senja dengan santapan Indian curry and butter chicken di sebuah pojok warungan ala India.

Day 5 [8/12/2014]

Pagi menyentil. Saatnya kami melanjutkan perjalanan. Kali ini melenggang ke Catarac Gorge, sebuah natural reservation yang hanya berjarak 1,5 km dari pusat kota. Tidak sampai 15 menit untuk sampai ke lokasi. Disana akan kaujumpai banyak sekali burung merak yang bebas berkeliaran berebut perhatianmu, mengibaskan ekornya dengan genit, memamerkan suaranya yang parau. Cantik!

Pretty Catarac Gorge

Pretty Catarac Gorge

Crossing over - Catarac Gorge

Crossing over – Catarac Gorge

Flirting Peacock - Catarac Gorge

Flirting Peacock – Catarac Gorge

Puas digodai cantiknya Catarac Gorge, kami bergegas menuju ujung paling timur dari Tasmania: Freycinet National Park. Takjub, aspal di jalanan Tasmania mulus sekali, sepanjang perjalanan tidak kami temui lubang yang berarti. Setelah sekitar 2 jam eneg mendengar ocehan sendiri di mobil, tibalah juga kami di Wineglass Bay (masih di kawasan Freycinet). Sebuah teluk berwarna putih melengkung yang berbentuk seperti ceruk raksasa atau bulan sabit atau dasar gelas anggur/wineglass. Konon selalu terpilih menjadi salah satu dari top 10 jajaran pantai terindah di dunia. Ada dua cara untuk menikmati keindahan pantai tersebut: via lookout (dari atas) dan trekking menuju pantai. OK, kami menapaki tangga dan batuan yang lumayan menanjak (20 menit-an). Nafas kami tinggal segelas saat menuju lookout. Namun setibanya di atas, ‘Hail Heaven!’… Garis lengkung putih yang melegenda itu tepat di depan mata, membuat nafas kami penuh kembali. Biru toskanya laut dan navy blue-nya langit ditemani pegunungan yang duduk manis di sekitarnya, … benar-benar breathtaking scenery. Belum puas hanya memandangi bay dari lookout, kami memutuskan menempuh trekking, ingin dibuai oleh pasir pantai itu. Rutenya lumayan menantang: terjal, curam, berbatu, dan licin. Mengingatkanku akan ekskul pramuka di sekolah dulu. Memasuki hutan, menapaki batu dan alley terjal. No kidding, untuk pria yang membawa wanitanya yang hobi ‘berwisata cantik’, kami tidak merekomendasikan rute ini. Atau kamu akan dicemberuti wanitamu sepanjang trek karena make up luntur, kulit tergores, rambut mengusut, keringat mengucur, atau kaki kram. Thanks to monosodium glutamate yang terkandung di makanan ringan –satu-satunya bekal tersisa yang terbawa -, adrenalin kami terpacu guna mempercepat langkah kami. Nafas kami tinggal satu-dua sendok saat kami terkapar di pasir putih itu. Lengkungan putih atau pantai yang tadi hanya terlihat dari kejauhan, saat ini kami berada di pangkuannya, menciumi dan mencumbuinya…kegirangan seperti anak kecil. Bak menikmati lukisan Tuhan, kami seperti tidak ingin beranjak dari tempat itu. Padahal masih ada jalur gila yang harus kami tempuh: trek pulang yang menanjak. Aku lebih memilih menapaki bebatuan itu satu persatu sambil membayangkan good lookingnya Gerard Butler daripada melihat jauh kedepan dan memikirkan beratnya rute itu.

Entah setan apa yang menyebabkan kaki-kaki kecil kami tak merasakan lelah, alih-alih kembali ke parking lot, kami mengulang lagi naik ke lookout hanya karena menemukan langit lebih biru daripada saat pertama kami datang. Sinting… biar saja, karena kami sedang senang.

Wineglass Bay

Wineglass Bay

Wineglass Bay

Wineglass Bay

Mencumbui Ombak - Wineglass Bay

Mencumbui Ombak – Wineglass Bay

Day 6 [9/12/2014]

Kembali ke Hobart tengah malam pada 8 Desember, tanpa tujuan yang jelas untuk menginap. Ditolak sana-sini, karena hotel-hotel backpacker penuh. Setelah berputar-putar, akhirnya kami temukan juga hotel backpacker yang nyaman. Segera mobil terparkir… pun  kami terlelap.

Pagi menyalakan matahari, dan mobil yang kami parkir sudah diabsen oleh police officer. Another shit happened. Sebuah fine ticket/surat tilang tertempel di jendela depan. Cerdas sekali, rupanya saking habisnya tenagaku semalam, sampai-sampai aku tidak membaca rambu parkir dengan seksama. AUD100 harus direlakan, jumlah yang lumayan untuk membeli 10kg daging sapi. Tertawa keras, menertawakan kebodohan diri sendiri,… lagi-lagi itulah reaksi kami saat menjumpai kesialan kecil.

Mt. Wellington (kunjungan ke-2)

Seperti yang sudah kututurkan, di hari pertama kami kurang beruntung mendapati Mt. Wellington murung tertutup kabut tebal. Maka diputuskanlah kunjungan kedua, menaikinya lagi. Gunung itu seperti tidak menerima kedatangan kami, tetap malu-malu berselimut kabut. Tidak setebal kunjungan pertama memang, tapi cantiknya jadi tidak semaksimal ketika dia berseri-seri di bawah matahari, awan putih , dan langit biru. Tapi tetap saja kami bersyukur, bisa menyapa kekarnya bebatuan dan arid vegetation yang unik di puncak Wellington.

Dari atas Mt. Wellington

Dari atas Mt. Wellington

Gloomy Mt. Wellington

Gloomy Mt. Wellington

Like Father Like Daughter @Mt. Wellington

Like Father Like Daughter @Mt. Wellington

Menara Congkak @Mt. Wellington

Menara Congkak @Mt. Wellington

Jalan Setapak, Mt. Wellington

Jalan Setapak, Mt. Wellington

Selepas turun dari Mt. Wellington, Bruny Island, pulau di selatan Tasmania sudah menunggu kami. Bermodal AUD 30 untuk menaikkan mobil ke ferry, jadilah kami membelah lautan menuju Bruny Island dari Kettering Marine. Sebagai informasi, ferry berangkat tiap 1 jam dengan durasi penyeberangan sekitar 15-20 menit (beroperasi sampai jam 7 malam – dari Bruny -).

Berkendara ke selatan, kami menyambangi Penguin Rookery yang terletak di The Neck’ yaitu isthmus atau tanah genting berpasir yang menghubungkan North dengan South Bruny. Tak lupa kami menaiki viewing platforms di sana. Dari atas, segalanya serba spektakuler. Leher ini  makin menjuntai menyaksikan bagaimana dua lautan yang menghimpit ‘The Neck’:  Isthmus Bay di kanan dan Adventure Bay di kiri seolah beradu untuk mengokupasi perhatian kami.

Heading to Bruny via Kettering

Heading to Bruny via Kettering

The Neck : between two oceans

The Neck : between two oceans

Penguin Rookery and Viewing Platform

Penguin Rookery and Viewing Platform

Selanjutnya kami menyusuri Adventure Bay dan menuju Captain James Cook’s Landing Place, tempat pertama kali Captain Tobias Furneax berlabuh (1773) setelah kapalnya (Resolution) terpisah dari Kapal yang dipimpin Captain James Cook — Penemu New Zealand–  (Adventure), disusul oleh Kapten Cook yang berlabuh di tahun 1777.

Captain Cook's Point - Adventure Bay

Captain Cook’s Point – Adventure Bay

Terinspirasi gambar mercusuar tua di post card dan brosur, tak lupa kami jelajahi sisi barat South Bruny untuk melihat Cape Bruny Lighthouse yang legendaris. Mercusuar yang sudah tidak beroperasi itu konon adalah mercusuar tertua terbesar kedua di Australia. Dan memang, mercusuar yang duduk, menua sendirian di tepi laut lepas di antara lengangnya pegunungan dolerite itu seakan menantang kemegahan Samudera Antartika. Emakkkk,…. kami ada di ujung dunia!!

Tak ingin ketinggalan ferry, kami pun segera kembali ke North Bruny. Pun masih sempat-sempatnya juga merangsek ke Get Shucked untuk menikmati fresh oyster. Selama ini aku  jijik untuk menyantap fresh oyster, ngeri dengan teksturnya dan takut bau amisnya, lalu  muntah saat menyantapnya. Sambil memejamkan mata dan menahan nafas, tiram pertama masuk ke kerongkongan. Ternyata  tiram-tiram itu benar-benar fresh, dingin di lidah, dan jauh dari bau amis seperti yang kubayangkan.

Cape Bruny Lighthouse (2)

Cape Bruny Lighthouse (2)

Cape Bruny Lighthouse

Cape Bruny Lighthouse

Fresh Oyster @Get Shucked

Fresh Oyster @Get Shucked

Day 7 [10/12/2014]

Tak terasa, sudah 7 hari kami di Tasmania. Hasting Cave and Thermal Spring terpilih sebagai kunjungan pamungkas. Pertimbangannya tentu saja selain karena termasuk list recommended tourist attraction, letaknya yang hanya 1,5 jam dari Kota Hobart atau 2 jam dari Hobart Airport masih memungkinkan kami untuk mengejar penerbangan pulang ke Melbourne.  Thermal Spring cukup menggoda dengan kolam air hangat dan hutan-hutannya yang teduh. 15 menit berkendara dari Thermal Spring, tibalah kami ke Hastings Cave (untuk masuk dan mengikuti tournya, kami harus membeli tiket AUD 25/person di Visitor Centre dekat Thermal Spring).

Thermal Spring (1)

Thermal Spring (1)

Thermal Spring (2)

Thermal Spring (2)

Mulut guanya terlihat kecil, namun ketika kami dibawa menuruni tangga temaram, masuk ke dalamnya, mulut kamilah yang justru ternganga lebar. Formasi subterranean yang terbentuk jutaan tahun lalu seperti stalaktit, stalagmit, formasi berbentuk selendang, dan bentuk-bentuk absurd lainnya, benar-benar sebuah kemegahan yang luar biasa. Sorot pencahayaan temaram yang menimpa bebatuan yang lembab itu membuat kami seperti Paman Gober yang sedang berada di kebun emas raksasa bawah tanah. Kami benar-benar dimanjakan plus dibuat tercengang.

Kemudian masuklah kami di tahap denial  –fase yang lumrah bagi para traveller–, masa di mana kami tidak ingin liburan ini berakhir. Walau singkat, dekapan dan kecupan Tasmania mampu membuat kami jatuh cinta, bahkan masih terbayang-bayang godaannya sampai saat ini. Tasmania, is now slowly smirking and seducing us, from afar… Tidakkah kalian tergoda?

Hastings Cave (5)

Hastings Cave (5)

Hastings Cave (2)

Hastings Cave (2)

Hastings Cave (1)

Hastings Cave (1)

Hastings Cave (3)

Hastings Cave (3)

Hastings Cave (6)

Hastings Cave (6)

Hastings Cave (4)

Hastings Cave (4)

Hastings Cave (7)

Hastings Cave (7)

Teruntuk  4 begundal begundil:
Bosku: Dimas Andi Wirawan; Nyonyah Okti Dian Linandari, Rizqi Juanda, dan putriku tercinta yang perkasa, Medina Safira, terima kasih sudah menjadi  rekan seperjalanan yang kompatibel. Bersama kalian, perjalanan menjadi sangat menyenangkan… ^__^

PS  —— a Lesson Learnt:

  1. No matter what shit we’re facing, keep calm and enjoy the ride.
  2. Majanemen Waktu. Set waktu dengan itinerary yang direncanakan.Jangan pernah meragukan keakuratan ramalan cuaca.
  3. Pasang senyum termanismu, …. penduduk lokal Tasmania ramah-ramah
  4. Selalu lengkapi diri dengan: Map (powered by Google atau GPS)! —Kecuali bagi kalian yang lebih memilih untuk tersesat dan berlama-lama bersama sang pujaan hati—; Powerbank atau Universal USB mobile phone car charger; dan Plenty of gasoline and FOOD+beverages. Percayalah, tangki mobil dan perut kosong ekstra muka pucat tidak akan menghasilkan foto selfie yang manis…. OK?

Melbourne, 23 Jan 2015

__Ira __

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on January 24, 2015 by in Travelling and tagged , , , , , , .

Navigation

%d bloggers like this: